Search This Blog

Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Friday, November 6, 2020

Menuju Kebebasan Hati dan Finansial

Sebuah renungan menuju akhir tahun 2020, tahun yang berkesan berbeda karena seluruh dunia dilanda pandemi Virus Corona yang bisa disebut sebagai pandemi COVID-19. Tahun ini secara pribadi saya mengalami beragam kejatuhan seperti mengakhiri kuliah S1 di Pendidikan Olahraga, mengajar secara Online (Daring) namun di balik kejatuhan saya memulai berinvestasi menuju kebebasan finansial. Seorang bijak pernah mengatakan "lepaskanlah semua kebencian dan kecintaan, hanya itu latihan yang kulakukan setiap hari". Saya sudah melakukannya dan semua itu memang terbukti, jalan kehidupan yang saya tempuh semuanya membuat sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengingat kembali di awal tahun, sambil menutup mata dan berpikir dalam ketenangan dan kedamaian saya merasakan bahwa hari-hari yang telah dilalui seperti sekejap mata. Memang waktu laksana pedang yang tajam, dia mampu membunuhmu dengan sebuah kepastian dari kehidupan meski kau berencana bagaimanapun yaitu kematian. Hal yang paling dekat dalam hidup sedangkan masa depan tetap jauh di depan mata. Namun, selama nafas masih berhembus walau bayangan kepastian tentang itu terus ada, tidak ada salahnya merencanakan dan mengupayakan peta kehidupan. Jatuh adalah hal yang biasa dalam kehidupan di tambah perilaku-perilaku kehidupan sesama makhluk yang mampu menghasilkan sebuah kecintaan dan kebencian, betapa lengkapnya seni kehidupan ini. Dalam latihan ini, hasilnya adalah sebuah kebijaksanaan dalam menyikapi kehidupan.

Tak ada cinta, tak ada benci hasilnya hanyalah niat baik dalam nurani. Saya percaya dan mengerti apa yang akan dihasilkan suatu saat nanti adalah sebuah hal kecil yang mampu menggetarkan kehidupan ini. Itulah yang akan dituju untuk sebuah kebebasan hati. Orang yang memiliki kebebasan hati bukan hanya menemukan kedamaian dan ketenangan dalam hidupnya, bahkan hingga kematiannya pasti. Rasa syukur, mengatakannya sungguh mudah tetapi menjalaninya perlu latihan yang mantap dalam melepas dengan apa yang dinamakan kebencian dan kecintaan.

Demi meraih sebuah kebebasan finansial, saya mulai belajar untuk menyisihkan penghasilan dengan membuang aspek kehidupan yang dinamakan kehendak. Secara ekonomi sebagai manusia, pertama saya sendiri menyadari bahwa kebutuhan adalah yang pasti, keinginan adalah sampingan dan sumber dayanya terbatas. Oleh karena itu perlu disederhanakan lagi meski dibalik terbatasnya sumber daya hidup kita harus mampu memiliki asset produktif agar apa yang dinamakan kebebasan finansial tercapai. Ini bukan tentang berapa banyak penghasilan yang di peroleh, ini adalah tentang bagaimana mengelola penghasilan yang diperoleh agar tercipta kebebasan finansial kelak.

Apa hubungan antara kebebasan hati dan finansial? Semua itu berhubungan dengan kesederhanaan hidup. Banyak orang yang bepenghasilan tinggi di akhir masa pensiunnya banyak membanggakan kejayaannya, namun pada akhir hidupnya ditemani dengan kemiskinan. Ada orang yang terus-menerus hidup demi uang tanpa memperdulikan kesehatannya, setelah jatuh sakit dia habiskan uang yang dihasilkan hanya untuk kesehatannya. Seorang karyawan karena memiliki penghasilan tinggi mengajukan kredit untuk beragam aset yang tidak produktif dengan membayar beragam tagihan kredit hampir menutupi penghasilannya dengan masa yang panjang lamanya hingga dia lupa akan hari tuanya.

Beragam kisah tersebut hanyalah sebagian kecil dari cerita kejatuhan tanpa ada niat kebangkitan. Dengan kecintaan terhadap uang manusia menjadi tamak, ketakutan akan kejatuhan (gengsi) membuat manusia melakukan beragam cara termasuk membuang kebebasan mereka secara finansial dengan bekerja keras dengan hasil yang hampa. Sebagai langkah awal menuju kebebasan finansial kita perlu memahami dulu bagaimana kebebasan hati. Membuang rasa gengsi dengan merencanakan sesuatu yang pasti, menyisihkan keinginan membuang penghasilan hanya untuk berfoya-foya.

Saya sering bertanya kepada banyak orang tentang bagaimana seandainya anda memiliki uang 100 juta rupiah, mayoritas dalam pikiran mereka adalah membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan dalam kehidupan ini dalam artian sebuah kebiasaan yang konsumtif, jarang ada orang yang menjawab mendayagunakannya untuk hal produktif seperti berinvestasi agar saya tidak perlu bekerja terlalu keras untuk uang dan membiarkan uang itu bekerja untuk saya. Akhirnya menjelang akhir tahun 2020 ini saya sudah mengerti tentang pola pikir kebanyakan orang, maka saya harus melawan pola pikir kebanyakan itu yaitu sebuah pola pikir konsumtif. Kesimpulannya dengan kebebasan hati ini, berpola pikirlah yang produktif agar mampu melawan arus orang banyak.

Monday, July 15, 2019

Rasa adalah Rahasia

Saat merasa maka akan tahu seperti apa rasanya. Rasa tak bisa di ungkapkan secara lisan maupun tulisan. Rasa adalah makna tersirat bukan tersurat.

Cinta adalah rasa dari stimulus indera kepada ungkapan diri. Cinta membuat orang menjadi semangat. Membuat hal yang tak mungkin menjadi sebuah upaya yang memungkinkan. Cinta itu bisa dikata sebuah sesuatu yang membuat mabuk namun tak seperti pemabuk. Cinta membuat orang gila namun tak menjadikanmu orang gila.

Apakah pantas di sebut cinta apabila hal tersebut membuat hati tidak karuan, membuat rasa cemburu bahkan hingga rasa takut akan kehilangan. Pada dasarnya cinta murni adalah kebahagiaan bukan perbudakan maupun penjajahan yang mesti diperjuangkan dengan derita.

Dalam sepi temukanlah kedamaian, ketentraman dan ketenangan. Temukanlah cinta dalam semesta, miliki selalu dia karena semesta pasti mendukung mu bersama Yang Maha Sepi. Untuk apa kesepian di dalam sepi karena Dia Yang Maha Sepi.




Saturday, July 13, 2019

Konflik adalah Seni

Setiap orang pasti tidak ingin kehidupannya bermasalah. Kita sudah tahu bagaimana orang lain memandang kehidupan kita sendiri, namun yang menyandang kita sendiri. Sesuai dengan perkataan seorang guru "jangan pernah mengadu permasalahan anda sendiri kepada sesama manusia". Jelas itu artinya juga kita mengadu masalah kita kepada orang yang sama-sama punya masalah dengan porsi yang berbeda setiap individunya. Seberapa hebatnya anda coba menghindari masalah anda, pasti masalah selalu mengejar anda.

Diampun bisa menjadi masalah karena pandangan orang selalu berbeda-beda terhadap orang lain. Apabila kita bercerita tentang masalah kita terhadap sesama manusia baiknya urungkan saja hal itu karena jalan yang bagus untuk menghadapi masalah adalah dekat dengan Tuhan. Semakin jauh kita ke tingkat penyelesaian, berdoalah selalu untuk tetap kuat menjalani apa yang akan di jalani ke depan.

Berpikirlah setiap konflik adalah bagian dari seni kehidupan, konflik harus di poles sedemikian rupa laksana tingkat kesulitan sebuah karya cipta suatu seni hingga menghasilkan kepuasan diri atas kemenangan dalam menghadapi konflik. Tetap berjuang dan terus melawan karena kepercayaan diri menjadi faktor penentu polesan kehidupan anda dalam menghadapi konflik. Anda memilih, anda menyandang. Orang lain membuat pilihan, dia yang memandang. Bergelut dengan seni adalah sebuah keharusan untuk melawan rasa gelisah, karena tanpa seni manusia gelisah.

Friday, July 12, 2019

Kehidupan yang Serba Salah

Apa yang kita jalankan benar, belum tentu benar bagi manusia lainnya. Contoh: "Seorang yang sudah lama menikah belum dikaruniai seorang anak. Pastinya akan di sebut aib bagi orang sekitar, terutama orang yang tidak suka dengannya. Saat sudah punya anak, malah jadi sebutan juga entah karena perilaku anaknya atau hal lain sebagainya. Jadi yang mana yang benar?"

Ada lagi sebuah contoh seseorang yang belum menikah hingga berumur 27 tahun menjadi sebutan. Datang ke kondangan pasti ada pertanyaan legenda "kapan kamu menyusul?". So, ketahuilah itulah yang membuat seorang bujangan jera datang ke resepsi anda saat anda mengundangnya. Jangankan ingin mendoakannya semoga lekas menyusul, ini malah mencemooh dan memakinya dengan sebutan yang tidak enak di dengar yaitu "jomblo". Jadi begini, andai itu berada di posisi anda bagaimana perasaan anda, boleh jadi itu adalah hal yang tidak etis dalam kehidupan. Dimana adab anda sebagai manusia?

Cerita baru lagi, seseorang yang belum menikah (laki-laki 27 tahun) punya kesempatan untuk dapat pasangan, dia (perempuan) bukan calon tapi ingin di calonkan. Dia pegawai negeri, punya pekerjaan tetap mapan hingga mampu menjadikan adiknya hingga kuliah dan bekerja, namun dia berumur hampir 40 tahun. Bagi sang lelaki itu adalah sebuah pilihan yang serba salah mengapa? Menerima, jadi sebutan orang karena perempuan itu bukan tipe yang dikehendaki laki-laki, lagipula umur perempuan dan lelaki itu berbeda jauh kayak kakak perempuan ama adik lelakinya saja. Belum lagi nanti cibiran hingga desas desus orang sekitar meski diam-diam akhirnya sampai pula omongan itu. Toch banyak aja orang nikah sama yang mapan juga kehabisan harta bahkan beli tongkat sebuah rumah pun kagak mampu. Kepegawaian tidak menjamin rezeki seseorang apalagi pasangan, percuma menjadi pasangan kalah hanya bermain sepihak belaka.

Menolak, jadi cibiran orang pula. Di sebut-sebut punya selera ketinggian lah, gak mikirin masa depan lah, salah sendiri karena gak mapan lah jadi lelaki bahkan di beri gambaran soal ketakutan hidup di hari tua apabila memilih milih perempuan cantik sebagai pasangan, dunia ini relatif lho. Anda nge jalanin orang yang mengomentari. So what? Lelaki berhak memilih apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Jadi, pada intinya pilihlah apa yang menjadi pilihan anda sendiri. Soal konsekuensi atau punisment karena pilihan anda karena tidak memilih apa yang menjadi saran dari seseorang. JANGAN PERNAH KATAKAN KATA MENYESAL kepada orang yang telah memberi anda saran, karena pasti anda akan di tiwas oleh si pemberi saran. Cukup sandang dan jalani pilihan anda. Katakan selalu SAYA BERSYUKUR atas apa yang saya pilih sebelumnya. Sebuah keluhan akan menjadi kemenangan bagi orang lain, bukan anda sendiri

Thursday, June 27, 2019

Bila Kau Susah, Bagilah Rezekimu dengan Orang Lain

"Bila kau susah, bagilah rezekimu dengan orang lain". Semboyan ini entah mengapa masuk begitu saja dalam pikiran. Memang pada dasarnya saat rezeki berdatangan namun masalah tetap berlanjut tidak salahnya sebagai manusia membagi sebagian rezekinya ke orang lain karena di dalam rezeki yang diterima setiap insan terdapat pula rezeki orang lain. Semua itu memang ada sejak zaman dahulu, karena sesungguhnya manusia itu harus mendapat keberkahan atas apa yang diterimanya.

Jangan pernah mengira dapat sesuatu yang besar adalah kesenangan, ingat manusia selalu di uji di muka bumi ini bahkan dalam keadaan berkelimpahan. Percuma memiliki apa-apa namun perasaan hidup selalu dihantui oleh rasa gelisah. Percuma pula mendapatkan apa yang di mau sedangkan keinginan lain masih terus ada. Dalam sumber daya terbatas kita manusia pasti memiliki keinginan yang tidak terbatas. Hanya keberkahanlah yang membuat manusia membatasi keinginannya, meski apa yang diterima tidak terbatas.

Tuesday, June 25, 2019

Kesesuaian Antara Perkataan dan Perbuatan

Menjadi manusia religius itu tak perlu menunjukan di hadapan publik bahwa dirimu adalah religius. Banyak orang menganggap setiap hal yang diposting dalam sosial medianya yang berkenaan dengan hal religius artinya dirinya religius. Dengan dalih sekedar mengingatkan diri sendiri bahkan memotivasi diri sendiri, ketahuilah apa yang kau posting itu sesuai atau tidak dengan kenyataan. Jangan-jangan itu hanyalah sebuah ekspetasi. Terkadang, saya pribadi merasa terlihat lucu melihat seseorang mengaku mencintai nabinya sendiri kalimat itu tertulis jelas di akun sosial medianya malah melakukan pacaran dan berdekatan dengan seseorang yang bukan haknya. Kalau memang tidak mampu menjadi religius tak usah pula mengaku mencintai nabi sendiri, sedangkan apa yang dilarang oleh nabinya dijalankan.

Kalau ingin posting kepameran katakan saja sebuah kepameran, tidak perlu menutup-nutupi apa yang di posting adalah pribadi anda yang sesungguhnya. Postinglah dengan bijak dan penuh kewajaran. Artinya, berpikirlah sebelum jari-jari bertindak. Apakah yang saya posting mempunyai manfaat atau mudharat. Apa yang saya posting menunjukan sisi munafik kehidupan saya. Apa yang saya posting menunjukan realita kehidupan saya. Apa yang saya posting tidak mencelakakan saya. Ingat selalu untuk berhati-hati, kehati-hatian, perhatian dan pemerhati dalam mempertimbangkan sebuah postingan.

Zaman dulu mulutmu adalah harimau mu, zaman sekarang jarimu adalah harimau mu yang bisa mencelakakan dirimu apabila engkau salah melangkah dalam bersosial media, bahkan menimbulkan persepsi yang berbeda karena netizen akan terus mengawasi. Masih untung pula ada yang memaklumi karena tahu usia mental dan perilaku gilanya, namun apa daya bagi yang tak mau memaklumi. Cyberbullying bisa terjadi kapan saja dan dimana saja apabila kita tidak cerdas dalam bersosial media.

Ada istilah mengatakan "in social media no one know you are the cat" artinya: dalam sosial media tidak ada satupun yang mengenali kau adalah kucing. Maksud dari pepatah tersebut adalah saat di sosial media seseorang dengan hebatnya berkoar-koar laksana singa, bahkan berani berdebat dalam perang komentar satu sama lain dengan merasa dirinya adalah paling benar. Kenyataannya, saat di bawa ketemu langsung bicara dengan tatap muka dalam sebuah forum di hadapan orang banyak dia menjadi seperti seekor kucing yang tidak mempunyai daya dan upaya melawan konsep dan topik yang dibicarakan. Dia hanya bisa mengiyakan apa yang dikata orang yang lebih mendominasinya. Sekarang yang ditanyakan, mana kemampuan mu sebagai netizen tadi, mengapa saat bertemu langsung engkau tak menyampaikan perkataan dan ide dari komentarmu seperti di sosial media tadi. Harusnya, berani bicara di sosial media berani pula menyampaikan pertanyaan maupun pernyataan kritis saat dalam ruang publik langsung.

Sekarang saya akan menjelaskan konsep dalam bermain komentar pada sosial media. Semakin panjang sebuah komentar maka semakin besar pula anda menunjukan kekalahan ada dalam perang siber. Zaman sekarang memang pada masanya perang tersebut jalan, terutama dalam bidang politik dan agama. Seseorang yang belum pernah terjun secara nyata di dunia politik berani berkomentar lantang seolah-olah dia ahli di bidang tersebut, begitu pula dalam masalah agama. Pada agama, belajar di sekolah berbasis agama saja belum pernah, beribadah kadang dilakukan kadang juga tidak, berdoa juga kurang fasih dan sebagainya malah berani mengungkap ke ranah hukum-hukum agama yang tidak sesuai untuk di benarkan. Bahkan saat dia merasa kalah akibat dari komentar yang menusuk dia juga menunjukan komentar yang panjang lebar dengan kalimat hampir memenuhi halaman website padahal inti komentarnya malah tidak ada bobotnya.

Seorang teman pernah berkata: "kadang banyak orang yang pandai memberi saran, tapi nol dalam praktik dan tindakannya -banyak"

Pada dasarnya tulisan ini hanya melihat realita yang sesungguhnya, menerima atau tidaknya semua tergantung persepsi anda. Semakin anda tersinggung maka kebenaran dari tulisan ini akan selalu mendekati dengan kenyataan diri anda sendiri. Sekian shitpost dari saya mengenai sosial media zaman now.

Tuesday, September 4, 2018

Kembali Ke Titik Nol

Seorang bijak pernah berkata "jangan pernah merasa puas atas hasil yang sudah di dapat, namun belajarlah terus untuk bersyukur dan berusaha siapa tahu setelah semua yang kau tuju tercapai ternyata tujuan lain malah menanti. Selama nafas terus berhembus, selama jiwa muda masih membara jalankanlah apa yang memang seharusnya dijalankan".

Menjadi seorang guru bukannya berhenti belajar, namun terus belajar sesuai dengan pepatah "tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat" artinya semakin seseorang berilmu dan mengamalkan ilmunya ia akan terus belajar hingga akhir hayatnya. Serta merta memberikan cerita sebuah pengalaman untuk murid-muridnya agar menjadi inspirasi bagi seluruh orang. Berusaha melakukan yang terbaik adalah sebuah kewajiban, hasilnya merupakan sebuah nilai tambah tanpa mengharapkan apa-apa karena pada dasarnya adalah "tiada asa, tiada derita".

Motivasi terbaik adalah melalui diri sendiri, saat kemauan lahir untuk bangkit dari sebuah keterpurukan. Setiap manusia memang mempunyai masa yang kelam, belajar dari masa kelam adalah sebuah konsep agar menjadi cahaya guna menerangi kehidupan bersama, demi menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Sesungguhnya di dalam keterpurukan masa lalu seseorang dapat dan mampu hingga siap menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Hari ini adalah awal belajar kembali untuk mempelajari apa yang belum di mengerti oleh kehidupan ini. Sesungguhnya ilmu adalah milik Yang Maha Mengetahui, tetaplah rendah hati. Perbanyak diam dan mendengar berikan pula umpan balik jika memang itu di perlukan agar kita dapat berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan ini.

Keyakinan dan kepercayaan yang kuat jadikanlah sebagai dasar pola pikir, karena kebaikan pasti menarik kebaikan. Jikalau saat kebaikan di anggap menarik keburukan maka yang terjadi hanyalah apa yang sesuai kita pikirkan. Oleh karena itu optimislah, jikalau ada sedikit sebuah hambatan anggaplah itu sebuah tantangan.

Sunday, December 17, 2017

Dari Buruh menjadi Seorang Guru (Sebuah Cerita)

Siapa sangka seorang buruh biasa yang hanya bekerja secara kasar menjadi guru hingga sekarang. Toch sebelum menjadi guru dia hanya bekerja mengantar barang di sebuah perusahaan distributor. Nama pekerjaannya sebenarnya sih keren menjadi "helper" kalau di Inggris kan. Kalau di Indonesiakan yak jadinya pembantu dibahasa kasarkan hanya buruh biasa yang kedudukannya dianggap paling bawah di perusahaan, maklum juga perusahaannya makai yang namanya manajemen dewa zeus dengan sentralisasi tinggi dan formalisasi rendah yang artinya apapun jalannya pekerjaan itu tergantung atasan atau pemilik perusahaan (sebenarnya dia juga bukan pemilik perusaan namun hanya menjalankannya, anggapannya seperti pemilik perusahaan karena kata-katanya sakti laksana dewa). Pada awal mula sang buruh itu bekerja seperti biasa ngumpulin uang, terkumpul dan habisin. uang yang terkumpul berasa kagak guna, lambat laun sang buruh berpikir mau d apakan nih penghasilan. Nih penghasilan buat modal usaha juga tanggung, di kumpulin ya habis juga karena nilai uang tiap tahun pasti menurun akibat dari inflasi.

Oke, dengan pikiran terbuka sambil di bawa tenang, maka di pilihlah kuliah sebagai jalan pintas. Padahal kan maksud kuliah juga hanya buat ngisi waktu malam yang kagak berguna soalnya pada malam hari itu memang santai lah. pagi ampe sore kerja trus malam nya nonton tv dan tidur kalau d pikirkan koq gitu aja yak ampe metalica nyanyi lagu shalawat kayak Bang Opick. Menjalani awal mula kuliah emang menyenangkan lah, dapat teman baru bahkan incaran baru, cieeeeee.... namun apa daya ni orang juga sadar diri, ingat pagi ampe sore kau itu buruh gak usah ngincer anak kuliahan yang pemikirannya elit gito loeh... fokus fokus ulalala ama belajar, nuntut ilmu. Untungnya kuliah itu sambil bersosialisasi, berteman akrab hingga nunjukin talenta di ranah akademik. bahkan teman kuliah sendiri memberi gelar "professor" (padahal itu gelar sebutan aja lha bukan gelar akademik). Amiiiiiiiiin ntar beneran deh kalau bisa punya gelar asli professor di depan nama, cieee ngarep nih... tapi itu doa lho dari teman semua secara tidak langsung. intinya di lingkungan akademik itu menyenangkan lah... berteman, baper baperan ama cewek, presentasi ampe kaya debat kusir, suka duka udah di lalui pokoknya selalu berkesan deh lingkungan akademik kampus. (ampe nunda skripsi selama satu tahun malah, anjayyyyyyyyyy)

But wait, lingkungan akademik emang menyenangkan... dalam lingkungan kerja malah berbanding terbalik lho, ya jelas buruh lah. Mulai dari tekanan si bos, hinaan dari rekan kerja sendiri, di sikut rekan kerja sendiri ampe jadi orang koq di iri in ama rekan kerja sendiri. Boleh di kata waktu kerja sambil kuliah di hina begini "percuma aja kuliah, sarjana aja banyak pengangguran" kata si kepala gudang "liat nih aku, kagak kuliahan pengalaman kerja banyak, sekarang posisi kepala gudang" okeyyyy u are the best lah dalam hati saya tapi nih terus terusan di hina saya, yang namanya kesabaran juga ada batasnya akhirnya ya mau gak mau saya lawan lah dengan metode fight. tiap bekerja gak bisa di singgung sedikit saya langsung blunder, gak bisa nih kepala gudang bicara hal hal mengenai kehidupannya dengan tinggi hati langsung di bikin sendiri konflik. Bila datang ke gudang abis ngantar barang ya, bikin drama sendiri hingga akhirnya menang dari si kepala gudang dan kepala gudang milih pindah ke gudang lain daripada harus berhadapan dengan sang malaikat mautnya.

Dari hinaan akhinya terbuka lagi pikiran baru pertama lulus sarjana ke mana (kaya perjudian aja), tapi kan kuliah esensi nya nuntut ilmu dan belajar lebih banyak lagi akhirnya kembali ke esensi itu. masalah kemana setelah lulus yah gak usah di pikir dlu yang penting belajar. Sebenarnya terimakasih yang amat banyak lho atas kotoran yang berupa hinaan itu, akhirnya dengan belajar dari klinik tong pang saya bisa bikin ni kotoran jadi pupuk... eh koq malah lari jadi seperti anak meme sih. sebenarnya tulisan ini adalah pertama kalinya saya menulis dengan bahasa ringan dan berekspresi. biasanya kan tulisan nya isinya berat amat. sekali kali lah bikin cerita pake bahasa gak baku. maklum nih penulis zaman now.

dekat dengan penghujung kuliah, masih dengan rutinitas yang sama di cobalah berinteraksi ke dunia luar mulai dari dunia hiburan sampai dunia politik hingga membentuk organisasi sendiri yang berasal dari komunitas abis di kudeta pemimpinya karena di anggap semaunya lah ama anggotanya. selain bermain di komunitas itu juga ada pula berorganisasi di sayap partai politik tingkat provinsi. di sanalah diri di tempa mulai dari awal ampe akhir itu pulalah yang menjadi salah satu alasan mengapa kuliah kagak berasa tertunda selain faktor X1 adalah pekerjaan, X2 adalah organisasi, X3 adalah rasa baper karena incaran sendiri di rebut kawan (ciieeeeeee mampus lho rasakan gimana tuh pengalaman di tikung teman sendiri) dan beragam faktor X lainnya. Dengan dipilihnya menunda kuliah, saat awal mula mengurus skripsi pekerjaan buruh mulai di abaikan sedikit demi sedikit, sambil curi curi waktu di pekerjaan, wajarlah kawanmu sendiri nikam dari belakang dengan omongin macam-macam soalnya integritas di pekerjaan kurang. Gak enak, ya emang gak enak mesti gimana lagi demi penghujung kuliah. mulai dari awal mula proposal skripsi sampe usai sidang ceritanya banyak mangkir dari pekerjaan dan abstain (padahal gak kerja 1 hari aja upah sebesar 150rb lebih hilang dalam seminggu, yah gapapa lah emang banyak lho pengorbanannya)

tiada pengorbanan yang sia-sia semua pasti ada hikmahnya (moga aja beneran dapat pasangan namanya hikmah hahahahaha). dimana lagi payahnya ada tawaran menjadi operator komputer di sekolah swasta dari keponakan sendiri. Pada saat itu sudah di bilangin jadi operator di sekolahan itu gajinya kecil, tapi tetap aja ngeyel ya biarin daripada capek capek memburuh yah uangnya sama aja. Akhirnya usai sidang skripsi move on dari pekerjaan sebagai buruh, jadilah seorang staff di sebuah sekolah swasta. sembari nunggu wisuda dan yudisium di situlah nunjukin talenta bahwa "saya adalah orang yang dapat diandalkan, dengan izin Allah SWT saya bergerak menyatakan diri menjadi mesin pendidikan demi memenuhi janji kemerdekaan yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 berbunyi: Mencerdaskan kehidupan bangsa." Saat itulah kehidupan berubah laksana negara api menyerang hanya avatar yang mampu mengatasi semua ini yaitu penguasa 4 elemen... eeeeh koq lari ke situ, kembali lagi ke cerita malam tadi, ups salah lagi. jadi ceritanya ini kalau di ringkas itu dari mesin perusahaan yaitu buruh, mesin politik yaitu anggota organisasi sayap partai politik dan akhirnya semua dilepas jadilah seorang mesin pendidikan sekaligus seorang guru dimana dialah pencetak generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, pengalaman hidup ini berharga sebagai seorang guru dimana berasal dari bidang ekonomi (bukan belajar dari lembaga pendidikan guru lho). Namun karena pengalaman berorganisasi yang kuat dan integritas dalam berorganisasi kuat maka jadilah dia seorang guru.

Intinya cerita ini ya di tengah (beneran aja, emang kue) "jadikan kotoran itu pupuk" artinya jadikan hinaat itu sebagai pertimbangan bahwa itu adalah kekuatan yang menyuburkan semangat kita untuk tumbuh menjadi lebih baik lagi. ini bukan tentang nilai uang yang di hasilkan dari diri melainkan tentang nilai kualitas diri yang lebih baik daripada sebelumnya. sekali lagi terimakasih banyak untuk pihak yang sudah terlibat dalam cerita ini, nikmat mana lagi dari kehidupan ini yang di dustakan. hasil pasti tidak mengkhianati

Saturday, November 7, 2015

Lepaskan Masa Pembelajaran, Saatnya Masa Pembentukan (Graduation)

Masa pembelajaran merupakan masa kita mengenal awal mula sesuatu dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak kenal diri menjadi kenal diri. Tiada masa yang tiada akhir begitu pula masa pembelajaran dari Sang Guru. Saat Sang Guru melepas masa pembelajarannya kepada Sang Murid itu artinya bahwa Sang Murid benar-benar lulus dan bukan artinya para murid berhenti belajar, melainkan bahwa sudah saatnya para murid belajar langsung kepada pengalamannya masing-masing tentang jati diri itu sendiri guna membangkitkan Sang Maha Guru yang ada pada dalam diri setiap insan.
Perjalanan hidup setiap orang berbeda itu artinya Sang Guru melepas masa pembelajarannya guna menciptakan lulusan kompeten dan berdiri di atas kaki sendiri karena selama masa pembelajaran Sang Guru telah mengajari bagaimana berjalan dengan kaki sendiri, oleh karena itu waktunya tiba bagi para murid menapaki jalan masing-masing berdasarkan konsep yang telah diberikan hingga menemukan jalan baru kehidupan yang tak ditemukan oleh siapa pun selain diri masing-masing mengetahuinya.

Monday, August 17, 2015

70 Tahun Indonesia Merdeka

Kalau hanya sekedar rangkaian kata, kalau hanya sekedar teori belaka siapapun bisa melakukannya. Melalui tema "Ayo Kerja" mari kita lakukan dengan tindakan yang nyata karena bangsa ini butuh kenyataan untuk maju. Apapun pekerjaan kita, apapun profesi kita hendaknya semangat juang itu dijalankan dengan sungguh-sungguh. Kenanglah betapa beratnya perjuangan sebelum kemerdekaan.
Doakan selalu para pahlawan, karena merekalah sampai sekarang kita bisa menikmati kehidupan yang bebas. Melalui tema "Ayo Kerja" kerjakan apa yang bisa kerjakan untuk bangsa ini. Tanyakan selalu apa yang bisa kita beri untuk bangsa.
Memang saya sendiri kecil dibandingkan dengan bangsa ini, namun keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik dengan tindakan bertahap guna menjadi orang yang berguna demi bangsa dan negara menjadi cita-cita terkuat dari lubuk hati yang terdalam ini.

Dirgahayu Indonesia Ku
Jayalah Bangsa Ku

Tuesday, July 28, 2015

Jadikan Kotoran Itu Pupuk

Saat seseorang berusaha untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya, kita pasti tidak lepas dari celaan atau hinaan dari orang lain yang tak menyukai cara kita. Apalagi orang tersebut adalah orang yang merasa iri akan jalan hidup kita. Ketahuilah rasa iri adalah rasa ketidakmampuan seseorang terhadap cara orang lain. Belum lagi kita berhasil mencapai tujuan hidup ini orang yang berperilaku iri dengki selalu saja mencoba mematahkan semangat kita dengan mengkritik seolah-olah dialah yang paling benar. Itu menjadi pertanyaan dalam benak kita "siapa sih orang itu kok beraninya atur kehidupan orang lain?". Memang itulah jalan dimana setiap jalan selalu terdapat hambatan.
Anggap saja kritikan kotor itu seperti kotoran sapi, toch yang namanya kotoran kalau dihindari tetap menjadi kotoran. Bagaimana jadinya kalau kotoran yang tak enak tersebut kita jadikan pupuk di olah dan dikelola dengan baik guna menyuburkan tanaman. Pasti kotoran itu bisa untuk menyuburkan kembali rumput yang dimakan oleh sang sapi.
Belajar dari siklus alam seperti itu kita akhirnya tahu seperti apa menyikapi sebuah kritikan maupun hinaan dari orang yang iri terhadap diri ini. Bisa jadi semakin kita dihina semakin mulia kita, semakin kuat pribadi kita karena kita tetap fokus terhadap apa yang kita lakukan saat ini dengan menjalankan yang terbaik menurut jalan kita pilih sendiri. Memang tak enak rasanya celaan atau hinaan itu, tapi bila kita sudah terbiasa dan akhirnya mampu membuktikan tujuan kita pada akhirnya kitalah pemenangnya. Kehidupan ini memang sementara namun untuk selamanya, tak perlu ragu lakukan terus yang terbaik untuk teman seperjuangan. Kita tentang badai kehidupan ini, kita jadikan kotoran yang disebut celaan itu untuk pupuk guna menyuburkan rumput untuk makanan sang sapi tiada lain adalah sifat iri dengki itu sendiri

Saturday, July 4, 2015

Kelebihan yang Diterima Orang Lain

Saat kita melihat hal yang diterima oleh orang lain itu lebih banyak daripada hal yang kita terima, alangkah baiknya tetaplah mensyukuri apa yang telah diterima kepada diri kita sendiri. Karena di sana artinya apa yang kita terima melebihi yang orang lain terima. Sebenarnya kita memang berharap hal yang besar, tetapi siaplah untuk menerima hal yang terkecil. Tiada asa tiada derita, di satu sisi kita percaya pula hal yang terbahagia. Berbahagia atas apa yang ada, dengan apa adanya itulah kebaikan yang besar yang diterima melebihi orang lain rasakan. Manusia hanya merencanakan dan berusaha, semua hasil rencana dan usaha akan tiba pada masanya di mana kita memiliki pribadi yang kuat dari sebelumnya. Pribadi yang berani menantang kehidupan, dengan jalan kebenaran meski kenyataannya pahit. Sepahit-pahitnya kehidupan lebih pahit lagi orang yang tak merasakan pahitnya getaran hidup. Merelakan apa yang tak bisa direlakan itulah sang pemilik pribadi yang kuat.

Sunday, February 1, 2015

Perjalanan Menuju Puncak Bukit Batas

Terinspirasi dari pengalaman pada malam kemarin, perjalanan yang terjal dan berliku-liku menuju puncak bukit batas hanya untuk menikmati keindahan alam dengan jiwa petualang untuk mencapai puncak dalam kehidupan. Rasanya sama hidup ini laksana mendaki sebuah gunung kehidupan. Di saat seseorang mendaki gunung ataupun bukit itu tak semudah dipikirkan dan di bayangkan orang-orang yang malas untuk mendakinya. Saat mendaki kita sering menemui berbagai rintangan yang syarat akan ekstirmnya kehidupan ini. Sewaktu diri bersemangat untuk mendaki maka baginya pendakian itu adalah tantangan bagi dirinya. Saat berada pada puncaknya ia kan menikmati hasinya. Pada akhirnya kita bisa melihat isi dunia dan keindahan semesta dari kejauhan.
Bukit batas menjadi guru langsung dari semesta, memberikan pembelajaran bahwa saat pendakian pun harus dinikmati guna melancarkan cara agar kita tahu bahwa semesta mendukung kita bahkan saat kita tak menyadarinya. Semakin seseorang bersyukur maka semesta kan memberi energinya untuk menjalani tantangan hidup ini.




Thursday, May 22, 2014

Ilmu Pengetahuan dan Seni

"Tiada ilmu manusia sesat, tiada seni manusia gelisah" memiliki arti bahwa kita semua wajib memiliki ilmu pengetahuan yang di imbangi dengan seni agar dapat mengetahui arti dan makna hidup ini bahwa kehidupan tak sesulit yang dipikirkan. Melalui tindakan yang nyata dan pengalaman yang ada, seni memang berperan penting terhadap ilmu pengetahuan. Sebagai penyeimbang, dengan keindahannya seni telah membuat ilmu pengetahuan lebih bermakna dalam kehidupan.

Masalah kehidupan ini adalah seni yang harus dihadapi dan diselesaikan agar kita dapat kuat dan tegar dalam menjalani hidup. Dengan tekad yang kuat, seseorang tidak mudah untuk menyerah untuk mencapai tujuan dari hidup. Yang di inginkan bukanlah sebuah pencapaian hasil, namun bagaimana berusaha untuk mencapai hasil itu karena sesungguhnya manusia hidup di masa sekarang. Masa depan pasti akan menanti atas apa yang dilakukan di masa sekarang, sedangkan masa lalu menjadi pengalaman untuk menjalani masa sekarang.

Kebanyakan manusia hidup dengan presepsi masing-masing, namun apakah presepsi itu selalu benar. Memang itu benar pada dirinya, namun belum tentu benar untuk orang lain. Beragam presepsi hadir dalam dunia ini dan terus bermunculan hingga akhirnya berkembang. Keanekaragaman presepsi itu adalah seni, dengan ilmu pengetahuanlah kita menyaringnya. Bersikaplah bijak dalam memahami setiap keanekaragaman presepsi itu, kebijaksanaan ada di kala kita memadukan unsur-unsur kehidupan seperti belief (kepercayaan), instuisi dan beragam-ragam pemikiran lainnya yang di sesuaikan satu sama lain.

Saturday, March 9, 2013

Mengubah Sakit Hati Menjadi Pemberdayaan Diri

Selama kita hidup pastinya kita pernah mengalami apa yang di namakan istilah "sakit hati" sedangkan kita sendiri tidak pernah tahu bahkan mendefinisikan secara detail apa itu yang dianamakan "sakit hati". Kita hanya mengetahui bagaimana rasanya, namun tak dapat mengartikan dengan sebenarnya apa yang di maksud dengan "sakit hati" itu sendiri. Sakit hati adalah rasa tidak nyaman pada diri manusia akan hal yang telah terjadi sebelumnya. Berkaitan dengan memori sakit hati terjadi karena hal tidak menyenangkan tersebut telah melekat di dasar jiwa. Banyak sekali akibat yang telah ditimbulkan oleh sakit hati, seperti: Depresi, cemas, rasa bersalah dan hal-hal negatif lainnya. Bahkan ada pula orang bunuh diri disrbabkan lantaran sakit hati.

Sakit hati tak ada obatnya, kalau hanya sekedar berfikir positif tak akan bisa menghilangkan perasaan tersebut. Karena sakit hati adalah suatu ketidakseimbangan yang berada di dasar jiwa manusia itu sendiri, maka sakit hati dapat di atasi dengan dijadikan sebuah pemberdayaan diri. Sakit merupakan suatu pembelajaran agar kita bisa lebih baik di bandingkan hal yang sebelumnya. Telah di singgung sebelumnya, bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Entah itu yang baik ataupun yang buruk selama di dalam diri kita masih menyimpan kebaikan dan berusaha melakukan yang terbaik, tak akan ada lagi dengan apa yang dinamakan sakit hati.

Memang tidak mudah menjalaninya, namun apa yang memang telah terjadi tak akan terulang kembali. Semua hanyalah memori, untuk apa pula diratapi. Lebih baik berorientasi untuk melangkah lebih maju ke depan untuk kehidupan yang lebih baik lagi di bandingkan sebelumnya. Gunakan kehidupan sekarang sebaik-baiknya. Kita manusia tak akan pernah bisa hidup abadi, kita berusaha hidup di masa sekarang dengan mempelajari masa lalu dan sekarang. Jangan pernah berhenti untuk belajar dari kehidupan apalagi sampai merasa pandai karena pengetahuan manusia itu terbatas. Dari rasa sakit kita belajar, dari rasa sakit pula lah kita mengerti hingga kita menjadi lebih kuat karena sakit itu sendiri. Di saat kita rasakan kehancuran jiwa ini karena sakit hati, rasakan pula penyatuan kembali yang lebih nyaman dan menyenangkan dibanding sebelumnya. Sadarilah apa yang telah terjadi memang terbaik buat diri kita.

Di saat memandang orang lain dengan hal yang kita inginkan jangan pernah hanya tanyakan "Kapan aku seperti mereka?" karena itu dapat kita lakukan bila sudah saatnya. Namun tanyakan pula "Kapan mereka seperti aku?" , hal itu dapat membuat kita menjadi lebih kuat dibandingkan sebelumnya karena hanya diri sendiri yang bisa menjadi diri sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri, sesuai dengan ketetapan yang ada pada diri. Bersemangatlah sesungguhnya kehidupan itu indah.

Tuesday, June 19, 2012

Biarlah Orang Lain Tak Memandang, Namun Tetaplah Memandang Baik Orang Lain

Kehidupan memang beragam-ragam macam bentuk sifat. Terutama sifat yang dimiliki oleh manusia. Banyak orang yang berpandangan terhadap orang sekitarnya. Beragam-ragam pandangan itu ada entah itu positif atau pun negatif. Semua itu lumrah karena memang inilah dunia tempat pembentukan jati diri untuk menuju kehidupan yang selanjutnya agar menjadi lebih baik daripada kehidupan sebelumnya. Memang bila kita mengetahui sesorang yang telah memandang kita dengan sebelah mata kebanyakan dari kita pasti merasa terhina dan pasti memandang balik dengan pandangan yang lebih buruk lagi. Namun semuanya itu tak berguna karena akibat dari efek itu telah menarik energi negatif kehidupan yang telah berdampak buruk dalam kehidupan kita. Itu terjadi karena hukum tarik menarik alam semesta di mana pada saat kita berbaik sangka terhadap sesuatu maka yang terjadi adalah kebaikan yang muncul pada keadaan sekitar kita. Perlu diketahui bahwa sebenarnya di saat kita berbuat baik terhadap orang lain. Sesungguhnya kebaikan itu adalah untuk diri kita sendiri. Sedangkan orang yang telah menerima kebaikan itu hanya mendapat sebagian kecil dari kebaikan kita, namun kita menerima kebaikan yang lebih besar daripada orang yang menerima. Memberi bukan berarti hanya dengan materi, namun memberi dapat juga berupa sesuatu yang tak dapat dilihat oleh kasat mata seperti motivasi dan tenaga.

Kembali kepada pandangan terhadap orang lain, hal itu laksana pemberian karena di saat kita memandang baik terhadap orang lain itu sama saja dengan memberi kebaikan kepada orang lain. Meski orang itu memandang buruk terhadap diri kita atau pun tak memandang kita. Namun kita harus tetap memandang baik pada dirinya karena bukan hanya dia yang ada di dunia ini. Memang orang yang tak memandang kita ada banyak namun lebih banyak lagi orang yang memandang baik terhadap diri kita sendiri asalkan kita mau memandang baik kepada semua orang. Siapa pun dia, meski orang jahat sekalipun selama pribadi kita tetap pada pendirian yang hakiki kita tak akan pernah menerima keburukan darinya. Oleh karena itu pandangan hanya ada pada diri kita masing-masing.

Tetaplah untuk memandang baik dengan kebaikan...

Sunday, April 1, 2012

Yang Telah Terjadi Itulah Memori

Apa itu memori? Seringkali kita menyebutnya namun apakah Anda sadar makna yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu kita semua dapat mengartikan arti kata "memori" dalam diri kita masing-masing. Memori bersifat lampau dan tak dapat di ulang untuk kedua kalinya. Memori adalah kejadian masa lampau dalam perjalanan hidup manusia yang terekam oleh pengingat otak. Memori pada manusia tak terbatas, pada umumnya memori ada yang berkesan dan tidak berkesan.

Memori merupakan bagian dari penyusun unsur manusia dari sifat, selain dari ruh dan jasad. Memori yang berkesan biasanya mengarah kepada sesuatu indah yang pernah terjadi sebelumnya pada kehidupan. Entah mengapa memori yang buruk dalam kehidupan juga berkesan namun penuh dengan kesan penyesalan. Untuk apa menyesal padahal itu akibat dari ulah sendiri yang tak disadari akibat ego pada diri manusia. Berani berbuat berani bertanggung jawab, semua yang telah terjadi tak perlu untuk disesali. Dunia yang kita tempati sekarang terlalu rugi untuk disesali, apalagi penyesalan itu datang di kemudian hari. Memang tak mudah untuk menjalani hidup, namun pantaskah kita tak menikmati semua ini. Mengapa harus mengisi memori dengan penyesalan dan penderitaan, sedangkan dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Setiap orang punya rencana, setiap orang punya tujuan. Apa yang kita tuju, apa yang kita rencanakan. Mengapa harus berpikir sempit sedangkan memori kita tak terbatas. Mengapa memori harus di isi dengan kesan masa lalu. Memori dapat di isi dengan rencana untuk masa depan. Jadikan masa lalu sebagai bagian dari pembelajaran untuk masa depan, biarlah itu berlalu namun bukan berarti kita harus larut dengan penyesalan dan keputus-asaan. Buatlah sebuah keputusan, kegagalan tak berarti apa-apa tanpa adanya kepercayaan akan keberhasilan. Bukan tujuan kita untuk berhasil, namun kita di tuju untuk berusaha agar berhasil.

Jalankan masa sekarang, namun arahkan semua itu kepada tujuan. Rasakan lebih dulu keberhasilan sebelum keberhasilan itu nyata. Terus dan terus berusaha dan berserah hanya itu jalan yang terbaik. Memori dapat menyimpan apa pun dalam kehidupan kita. Keaadaan sekarang lebih baik dari sebelumnya itu memang benar terbukti, namun kebanyakan dari kita tak menyadari semua itu. Syukuri apa yang ada karena memang itulah yang kita perlu. Keinginan hanya sebatas keinginan di mana kita mampu mewujudkan setelah terpenuhi apa yang dinamakan keperluan.

Isilah memori dengan tujuan sebelum masa lampau terjadi. Memang kesempatan tak datang dua kali, tetapi kesempatan itu sering terjadi dengan beraneka ragam bentuk memori kehidupan yang tak di sadari. Apa yang telah tejadi bukan untuk disesali meski berkesan buruk. Namun untuk disyukuri itulah jalan yang terbaik. Kebaikan pasti dibalas kebaikan selama hati kita ikhlas dalam berbuat baik.

Sunday, November 20, 2011

Letak Sebuah Kesalahan

Dalam perjalanan hidup manusia tak akan pernah bisa terlepas dari apa yang dinamakan kesalahan. Meski itu salah kebanyakan dari kita mengganggap kalau salah memang salah tapi dapatkah kita menyadari apa kebodohan diri kita di balik sebuah kesalahan. Kebodohan terbesar dari kita adalah tidak menyadari kebodohan milik sendiri. Manusia tiada daya, lemah dan tiada upaya. Segalanya hanya kehendak darinya. Tidak perlu disangkal maupun ditepis, kebodohan itu pernah dialami oleh penulis sendiri dalam menjalani konsep kehidupan ini. Konsep yang seharusnya untuk membawa diri telah kotor akibat pengalihan pandangan oleh kehidupan duniawi. Meski ada seorang pembimbing kesalahan pasti ada.

Kesalahan tidak pada pembimbing karena pembimbing hanya memberi pengarahan. Kesalahan sebenarnya ada pada yang dibimbing karena tidak mengikuti pengarahan yang diberi oleh pembimbing. Memang penulis bukan seorang pembimbing namun ini hanya sebuah rekam dari penulis atas kejadian yang telah dialami. Sekarang sebelum telambat maka sadarilah kesalahan akan kebodohan yang telah dibuat oleh sendiri sebagai bukti pembelajaran ke depan atas apa yang telah dialami. Hanya diri sendiri yang mampu menyadari apa yang telah menjadi kesalahan akan kebodohan dirinya sendiri. Upaya dari yang Maha Kuasa atas segalanya ada dalam apa yang telah terjadi sebelumnya.

Wednesday, August 31, 2011

Kita Memang Patut Bersyukur

Sebagai manusia kita seringkali tak akan pernah luput dari apa yang dinamakan kesalahan dan kekhilafan karena manusia tak ada yang sempurna. Namun, justru karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila ia mau menyadari dan memperbaiki kesalahan dan kekhilafan pada dirinya dengan berusaha menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Sebagai makhluk sosial kita berhubungan dengan yang lainnya. Di saat itulah orang lain pasti ada yang melakukan kesalahan terhadap kita, begitu pula sebaliknya. Namun apalah di kata memang kita manusia, gambaran dunia nyata yang sebenarnya semu dan sementara. Kita patut bersyukur bahwa kehidupan kita yang memang sementara namun untuk selamanya. Terkadang memang sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain terhadap diri kita. Tetapi apalah artinya kesalahan masa lalu yang memang telah terjadi, laksana nasi yang telah menjadi bubur. Tiada salahnya jikalau memang telah terjadi itu dinikmati dengan hati-hati untuk pergerakan ke depan nanti. Bagi yang berbuat salah meminta maaf memang baik, akan tetapi bagi kita yang telah terdzolimi orang lain sangat lebih baik jikalau kita bisa memaafkan lebih dahulu sebelum seseorang meminta maaf.

Percayalah seberapa besar kejahatan yang kita terima dari orang lain. Lebih besar lagi kebaikan yang di terima dari orang yang pemaaf. Itu memang terbukti atas perjalanan hidup yang telah di jalani. Dengan pandangan kedudukan dalam diam, hanya Tuhan yang mampu membalas keyakinan dari hati yang murni akan kebaikan. Semoga kita semua merupakan golongan orang yang pemaaf sebelum orang lain meminta maaf. Semesta yang bergerak dalam kedudukan diam pasti menyambut kita dengan penuh kebaikan. Kebaikan yang selalu menerangi kedamaian yang suci. Atas segala keridhaan dari Yang Maha Pengampun. Mari kita tambahkan nikmat ini dengan bersyukur. BERSYUKURLAH.......

Tuesday, July 12, 2011

Cerminan Diri yang Pecah dan Arti Sebuah Kehancuran

Terlihat cerminan diri yang semula utuh, menjadi hancur berkeping-keping atas sesuatu yang belum dikenali alasannya. Memang kehancuran itu menyakitkan. Namun apalah daya ini memang sudah takdir dan memang telah terjadi tetapi masih ada kata 'ke depan'.

Entah itu firasat ataukah sebuah gambaran kesulitan hidup, namun dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Memang lebih baik terus berusaha selama masih bisa diusahakan.

Kehancuran memang ada, kegagalan memang melanda namun itulah resiko dari pembelajaran. Tetapi KEHANCURAN BUKAN AKHIR SEGALANYA. Silakan apa yang dinamakan 'resiko' menunggu di depan persimpangan ini dan menuntun ke jalan buntu. Tapi, terjangan 'intropeksi' akan mampu memenangkan peperangan dalam gejolak kehidupan hingga sampai kepada Yang Haq.

Rasakan kehancuran, nikmati proses penyatuan keping demi keping dari sisa kehancuran. Bukan karena nikmat kita bersyukur, melainkan karena bersyukurlah nikmat itu ada. Selama nafas belum di kerongkongan selama itu pula jalan akan terus ada. Nikmatilah dengan relaks yang di awali rasa syukur, di akhiri keridhaan. Itulah Haq Nya semata.