Search This Blog

Saturday, July 6, 2019

Berbagi Pengalaman Traveller : Pantai Asmara

Pantai Asmara terletak di Muara Asam-asam, Kabupaten Tanah Laut. Kata "Asmara" merupakan kepanjangan dari Asam-asam muara. Pantai ini merupakan salah satu pantai yang menghadap langsung di laut.

Suasana pantai ini selalu ramai untuk di kunjungi terutama saat liburan, fasilitas yang disediakan mulai dari penginapan hingga tempat pembelian souvenir. Sepanjang pantai ini saya menelusuri banyak biota laut seperti kepiting yang sangat kecil. Di sepanjang pantai di sediakan lampau untuk tempat istirahat untuk di sewa. Penelusuran saya pada pantai ini sepanjang saya menjauhi keramaian, maka akan terlihat suasana asli sepinya pantai










Thursday, June 27, 2019

Bila Kau Susah, Bagilah Rezekimu dengan Orang Lain

"Bila kau susah, bagilah rezekimu dengan orang lain". Semboyan ini entah mengapa masuk begitu saja dalam pikiran. Memang pada dasarnya saat rezeki berdatangan namun masalah tetap berlanjut tidak salahnya sebagai manusia membagi sebagian rezekinya ke orang lain karena di dalam rezeki yang diterima setiap insan terdapat pula rezeki orang lain. Semua itu memang ada sejak zaman dahulu, karena sesungguhnya manusia itu harus mendapat keberkahan atas apa yang diterimanya.

Jangan pernah mengira dapat sesuatu yang besar adalah kesenangan, ingat manusia selalu di uji di muka bumi ini bahkan dalam keadaan berkelimpahan. Percuma memiliki apa-apa namun perasaan hidup selalu dihantui oleh rasa gelisah. Percuma pula mendapatkan apa yang di mau sedangkan keinginan lain masih terus ada. Dalam sumber daya terbatas kita manusia pasti memiliki keinginan yang tidak terbatas. Hanya keberkahanlah yang membuat manusia membatasi keinginannya, meski apa yang diterima tidak terbatas.

Tuesday, June 25, 2019

Kesesuaian Antara Perkataan dan Perbuatan

Menjadi manusia religius itu tak perlu menunjukan di hadapan publik bahwa dirimu adalah religius. Banyak orang menganggap setiap hal yang diposting dalam sosial medianya yang berkenaan dengan hal religius artinya dirinya religius. Dengan dalih sekedar mengingatkan diri sendiri bahkan memotivasi diri sendiri, ketahuilah apa yang kau posting itu sesuai atau tidak dengan kenyataan. Jangan-jangan itu hanyalah sebuah ekspetasi. Terkadang, saya pribadi merasa terlihat lucu melihat seseorang mengaku mencintai nabinya sendiri kalimat itu tertulis jelas di akun sosial medianya malah melakukan pacaran dan berdekatan dengan seseorang yang bukan haknya. Kalau memang tidak mampu menjadi religius tak usah pula mengaku mencintai nabi sendiri, sedangkan apa yang dilarang oleh nabinya dijalankan.

Kalau ingin posting kepameran katakan saja sebuah kepameran, tidak perlu menutup-nutupi apa yang di posting adalah pribadi anda yang sesungguhnya. Postinglah dengan bijak dan penuh kewajaran. Artinya, berpikirlah sebelum jari-jari bertindak. Apakah yang saya posting mempunyai manfaat atau mudharat. Apa yang saya posting menunjukan sisi munafik kehidupan saya. Apa yang saya posting menunjukan realita kehidupan saya. Apa yang saya posting tidak mencelakakan saya. Ingat selalu untuk berhati-hati, kehati-hatian, perhatian dan pemerhati dalam mempertimbangkan sebuah postingan.

Zaman dulu mulutmu adalah harimau mu, zaman sekarang jarimu adalah harimau mu yang bisa mencelakakan dirimu apabila engkau salah melangkah dalam bersosial media, bahkan menimbulkan persepsi yang berbeda karena netizen akan terus mengawasi. Masih untung pula ada yang memaklumi karena tahu usia mental dan perilaku gilanya, namun apa daya bagi yang tak mau memaklumi. Cyberbullying bisa terjadi kapan saja dan dimana saja apabila kita tidak cerdas dalam bersosial media.

Ada istilah mengatakan "in social media no one know you are the cat" artinya: dalam sosial media tidak ada satupun yang mengenali kau adalah kucing. Maksud dari pepatah tersebut adalah saat di sosial media seseorang dengan hebatnya berkoar-koar laksana singa, bahkan berani berdebat dalam perang komentar satu sama lain dengan merasa dirinya adalah paling benar. Kenyataannya, saat di bawa ketemu langsung bicara dengan tatap muka dalam sebuah forum di hadapan orang banyak dia menjadi seperti seekor kucing yang tidak mempunyai daya dan upaya melawan konsep dan topik yang dibicarakan. Dia hanya bisa mengiyakan apa yang dikata orang yang lebih mendominasinya. Sekarang yang ditanyakan, mana kemampuan mu sebagai netizen tadi, mengapa saat bertemu langsung engkau tak menyampaikan perkataan dan ide dari komentarmu seperti di sosial media tadi. Harusnya, berani bicara di sosial media berani pula menyampaikan pertanyaan maupun pernyataan kritis saat dalam ruang publik langsung.

Sekarang saya akan menjelaskan konsep dalam bermain komentar pada sosial media. Semakin panjang sebuah komentar maka semakin besar pula anda menunjukan kekalahan ada dalam perang siber. Zaman sekarang memang pada masanya perang tersebut jalan, terutama dalam bidang politik dan agama. Seseorang yang belum pernah terjun secara nyata di dunia politik berani berkomentar lantang seolah-olah dia ahli di bidang tersebut, begitu pula dalam masalah agama. Pada agama, belajar di sekolah berbasis agama saja belum pernah, beribadah kadang dilakukan kadang juga tidak, berdoa juga kurang fasih dan sebagainya malah berani mengungkap ke ranah hukum-hukum agama yang tidak sesuai untuk di benarkan. Bahkan saat dia merasa kalah akibat dari komentar yang menusuk dia juga menunjukan komentar yang panjang lebar dengan kalimat hampir memenuhi halaman website padahal inti komentarnya malah tidak ada bobotnya.

Seorang teman pernah berkata: "kadang banyak orang yang pandai memberi saran, tapi nol dalam praktik dan tindakannya -banyak"

Pada dasarnya tulisan ini hanya melihat realita yang sesungguhnya, menerima atau tidaknya semua tergantung persepsi anda. Semakin anda tersinggung maka kebenaran dari tulisan ini akan selalu mendekati dengan kenyataan diri anda sendiri. Sekian shitpost dari saya mengenai sosial media zaman now.

Tuesday, September 4, 2018

Kembali Ke Titik Nol

Seorang bijak pernah berkata "jangan pernah merasa puas atas hasil yang sudah di dapat, namun belajarlah terus untuk bersyukur dan berusaha siapa tahu setelah semua yang kau tuju tercapai ternyata tujuan lain malah menanti. Selama nafas terus berhembus, selama jiwa muda masih membara jalankanlah apa yang memang seharusnya dijalankan".

Menjadi seorang guru bukannya berhenti belajar, namun terus belajar sesuai dengan pepatah "tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat" artinya semakin seseorang berilmu dan mengamalkan ilmunya ia akan terus belajar hingga akhir hayatnya. Serta merta memberikan cerita sebuah pengalaman untuk murid-muridnya agar menjadi inspirasi bagi seluruh orang. Berusaha melakukan yang terbaik adalah sebuah kewajiban, hasilnya merupakan sebuah nilai tambah tanpa mengharapkan apa-apa karena pada dasarnya adalah "tiada asa, tiada derita".

Motivasi terbaik adalah melalui diri sendiri, saat kemauan lahir untuk bangkit dari sebuah keterpurukan. Setiap manusia memang mempunyai masa yang kelam, belajar dari masa kelam adalah sebuah konsep agar menjadi cahaya guna menerangi kehidupan bersama, demi menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Sesungguhnya di dalam keterpurukan masa lalu seseorang dapat dan mampu hingga siap menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Hari ini adalah awal belajar kembali untuk mempelajari apa yang belum di mengerti oleh kehidupan ini. Sesungguhnya ilmu adalah milik Yang Maha Mengetahui, tetaplah rendah hati. Perbanyak diam dan mendengar berikan pula umpan balik jika memang itu di perlukan agar kita dapat berinteraksi dengan baik terhadap lingkungan ini.

Keyakinan dan kepercayaan yang kuat jadikanlah sebagai dasar pola pikir, karena kebaikan pasti menarik kebaikan. Jikalau saat kebaikan di anggap menarik keburukan maka yang terjadi hanyalah apa yang sesuai kita pikirkan. Oleh karena itu optimislah, jikalau ada sedikit sebuah hambatan anggaplah itu sebuah tantangan.

Sunday, December 17, 2017

Dari Buruh menjadi Seorang Guru (Sebuah Cerita)

Siapa sangka seorang buruh biasa yang hanya bekerja secara kasar menjadi guru hingga sekarang. Toch sebelum menjadi guru dia hanya bekerja mengantar barang di sebuah perusahaan distributor. Nama pekerjaannya sebenarnya sih keren menjadi "helper" kalau di Inggris kan. Kalau di Indonesiakan yak jadinya pembantu dibahasa kasarkan hanya buruh biasa yang kedudukannya dianggap paling bawah di perusahaan, maklum juga perusahaannya makai yang namanya manajemen dewa zeus dengan sentralisasi tinggi dan formalisasi rendah yang artinya apapun jalannya pekerjaan itu tergantung atasan atau pemilik perusahaan (sebenarnya dia juga bukan pemilik perusaan namun hanya menjalankannya, anggapannya seperti pemilik perusahaan karena kata-katanya sakti laksana dewa). Pada awal mula sang buruh itu bekerja seperti biasa ngumpulin uang, terkumpul dan habisin. uang yang terkumpul berasa kagak guna, lambat laun sang buruh berpikir mau d apakan nih penghasilan. Nih penghasilan buat modal usaha juga tanggung, di kumpulin ya habis juga karena nilai uang tiap tahun pasti menurun akibat dari inflasi.

Oke, dengan pikiran terbuka sambil di bawa tenang, maka di pilihlah kuliah sebagai jalan pintas. Padahal kan maksud kuliah juga hanya buat ngisi waktu malam yang kagak berguna soalnya pada malam hari itu memang santai lah. pagi ampe sore kerja trus malam nya nonton tv dan tidur kalau d pikirkan koq gitu aja yak ampe metalica nyanyi lagu shalawat kayak Bang Opick. Menjalani awal mula kuliah emang menyenangkan lah, dapat teman baru bahkan incaran baru, cieeeeee.... namun apa daya ni orang juga sadar diri, ingat pagi ampe sore kau itu buruh gak usah ngincer anak kuliahan yang pemikirannya elit gito loeh... fokus fokus ulalala ama belajar, nuntut ilmu. Untungnya kuliah itu sambil bersosialisasi, berteman akrab hingga nunjukin talenta di ranah akademik. bahkan teman kuliah sendiri memberi gelar "professor" (padahal itu gelar sebutan aja lha bukan gelar akademik). Amiiiiiiiiin ntar beneran deh kalau bisa punya gelar asli professor di depan nama, cieee ngarep nih... tapi itu doa lho dari teman semua secara tidak langsung. intinya di lingkungan akademik itu menyenangkan lah... berteman, baper baperan ama cewek, presentasi ampe kaya debat kusir, suka duka udah di lalui pokoknya selalu berkesan deh lingkungan akademik kampus. (ampe nunda skripsi selama satu tahun malah, anjayyyyyyyyyy)

But wait, lingkungan akademik emang menyenangkan... dalam lingkungan kerja malah berbanding terbalik lho, ya jelas buruh lah. Mulai dari tekanan si bos, hinaan dari rekan kerja sendiri, di sikut rekan kerja sendiri ampe jadi orang koq di iri in ama rekan kerja sendiri. Boleh di kata waktu kerja sambil kuliah di hina begini "percuma aja kuliah, sarjana aja banyak pengangguran" kata si kepala gudang "liat nih aku, kagak kuliahan pengalaman kerja banyak, sekarang posisi kepala gudang" okeyyyy u are the best lah dalam hati saya tapi nih terus terusan di hina saya, yang namanya kesabaran juga ada batasnya akhirnya ya mau gak mau saya lawan lah dengan metode fight. tiap bekerja gak bisa di singgung sedikit saya langsung blunder, gak bisa nih kepala gudang bicara hal hal mengenai kehidupannya dengan tinggi hati langsung di bikin sendiri konflik. Bila datang ke gudang abis ngantar barang ya, bikin drama sendiri hingga akhirnya menang dari si kepala gudang dan kepala gudang milih pindah ke gudang lain daripada harus berhadapan dengan sang malaikat mautnya.

Dari hinaan akhinya terbuka lagi pikiran baru pertama lulus sarjana ke mana (kaya perjudian aja), tapi kan kuliah esensi nya nuntut ilmu dan belajar lebih banyak lagi akhirnya kembali ke esensi itu. masalah kemana setelah lulus yah gak usah di pikir dlu yang penting belajar. Sebenarnya terimakasih yang amat banyak lho atas kotoran yang berupa hinaan itu, akhirnya dengan belajar dari klinik tong pang saya bisa bikin ni kotoran jadi pupuk... eh koq malah lari jadi seperti anak meme sih. sebenarnya tulisan ini adalah pertama kalinya saya menulis dengan bahasa ringan dan berekspresi. biasanya kan tulisan nya isinya berat amat. sekali kali lah bikin cerita pake bahasa gak baku. maklum nih penulis zaman now.

dekat dengan penghujung kuliah, masih dengan rutinitas yang sama di cobalah berinteraksi ke dunia luar mulai dari dunia hiburan sampai dunia politik hingga membentuk organisasi sendiri yang berasal dari komunitas abis di kudeta pemimpinya karena di anggap semaunya lah ama anggotanya. selain bermain di komunitas itu juga ada pula berorganisasi di sayap partai politik tingkat provinsi. di sanalah diri di tempa mulai dari awal ampe akhir itu pulalah yang menjadi salah satu alasan mengapa kuliah kagak berasa tertunda selain faktor X1 adalah pekerjaan, X2 adalah organisasi, X3 adalah rasa baper karena incaran sendiri di rebut kawan (ciieeeeeee mampus lho rasakan gimana tuh pengalaman di tikung teman sendiri) dan beragam faktor X lainnya. Dengan dipilihnya menunda kuliah, saat awal mula mengurus skripsi pekerjaan buruh mulai di abaikan sedikit demi sedikit, sambil curi curi waktu di pekerjaan, wajarlah kawanmu sendiri nikam dari belakang dengan omongin macam-macam soalnya integritas di pekerjaan kurang. Gak enak, ya emang gak enak mesti gimana lagi demi penghujung kuliah. mulai dari awal mula proposal skripsi sampe usai sidang ceritanya banyak mangkir dari pekerjaan dan abstain (padahal gak kerja 1 hari aja upah sebesar 150rb lebih hilang dalam seminggu, yah gapapa lah emang banyak lho pengorbanannya)

tiada pengorbanan yang sia-sia semua pasti ada hikmahnya (moga aja beneran dapat pasangan namanya hikmah hahahahaha). dimana lagi payahnya ada tawaran menjadi operator komputer di sekolah swasta dari keponakan sendiri. Pada saat itu sudah di bilangin jadi operator di sekolahan itu gajinya kecil, tapi tetap aja ngeyel ya biarin daripada capek capek memburuh yah uangnya sama aja. Akhirnya usai sidang skripsi move on dari pekerjaan sebagai buruh, jadilah seorang staff di sebuah sekolah swasta. sembari nunggu wisuda dan yudisium di situlah nunjukin talenta bahwa "saya adalah orang yang dapat diandalkan, dengan izin Allah SWT saya bergerak menyatakan diri menjadi mesin pendidikan demi memenuhi janji kemerdekaan yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 berbunyi: Mencerdaskan kehidupan bangsa." Saat itulah kehidupan berubah laksana negara api menyerang hanya avatar yang mampu mengatasi semua ini yaitu penguasa 4 elemen... eeeeh koq lari ke situ, kembali lagi ke cerita malam tadi, ups salah lagi. jadi ceritanya ini kalau di ringkas itu dari mesin perusahaan yaitu buruh, mesin politik yaitu anggota organisasi sayap partai politik dan akhirnya semua dilepas jadilah seorang mesin pendidikan sekaligus seorang guru dimana dialah pencetak generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, pengalaman hidup ini berharga sebagai seorang guru dimana berasal dari bidang ekonomi (bukan belajar dari lembaga pendidikan guru lho). Namun karena pengalaman berorganisasi yang kuat dan integritas dalam berorganisasi kuat maka jadilah dia seorang guru.

Intinya cerita ini ya di tengah (beneran aja, emang kue) "jadikan kotoran itu pupuk" artinya jadikan hinaat itu sebagai pertimbangan bahwa itu adalah kekuatan yang menyuburkan semangat kita untuk tumbuh menjadi lebih baik lagi. ini bukan tentang nilai uang yang di hasilkan dari diri melainkan tentang nilai kualitas diri yang lebih baik daripada sebelumnya. sekali lagi terimakasih banyak untuk pihak yang sudah terlibat dalam cerita ini, nikmat mana lagi dari kehidupan ini yang di dustakan. hasil pasti tidak mengkhianati