Search This Blog

Sunday, September 17, 2017

Sang Bulan yang Jatuh

Berawal dari mimpi yang menurut tafsir mimpi bahwa apabila seseorang bermimpi "melihat bulan jatuh" maka artinya ke depan ia akan dilanda kesusahan. Setelah mengetahui itu, hal itu terjadi pada diri kita hendaknya jadikan hal tersebut adalah persiapan kita untuk menghadapi ke depan. Kesusahan bukanlah hal yang mesti dikhawatirkan melainkan sebuah hal yang harus dihadapi dengan pikiran dan perasaan yang matang.

Dalam kehidupan banyak yang terjebak akan masa lalunya dan khawatir akan masa depannya, hingga ia terus meratapi masa lalu, tidak hidup di masa sekarang dan masa depan. sebuah mimpi memang pertanda agar kita siap menghadapi tahap demi tahap kehidupan. Pada dasarnya setiap proses yang berjalan hendaknya dinikmati dan apapun hasilnya hendaknya disyukuri.

Sang bulan memang jatuh, tetapi jatuhnya sang bulan tetaplah menjadi sebuah tantangan bagi seseorang yang memiliki mental pemenang. Seseorang yang memang sudah terbiasa dengan rasa sakit baginya kesusahan hanyalah hisapan jempol biasa. Manusia memang mempunyai banyak kelemahan, namun rasa ingin menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari lah yang membuat kelemahan seseorang itu tak berarti lagi. Hiduplah dengan belajar dari masa lalu tanpa meratapinya, jalanilah masa sekarang dengan menikmatinya dan raihlah masa depan dengan mensyukuri apapun hasilnya.

Kembalikanlah semua hasil dengan mengintropeksi diri sendiri, hindarilah perilaku yang berupaya menjudge (menghakimi) lingkungan tanpa menganalisis hukum sebab dan akibat. Berpikirlah melingkar yaitu pemikiran tanpa sudut pandang yang mempertimbangkan segala aspek yang ada.

Saturday, November 5, 2016

Catatan 4 November 2016

Pada tanggal tersebut telah terjadi demo besar-besaran di berbagai daerah. Demo dimana telah di rencanakan dan dilaksanakan dengan damai. Penyebabnya memang sudah diketahui pasti karena apa, oleh sebab itu tak perlu lagi di ungkit di dalam catatan ini. Di sini saya hanya mengambil hikmah dari peristiwa yang telah terjadi pada tanggal itu meski ada sedikit kekacauan. Pada tanggal itu menurut pandangan saya sebagai pribadi, berdasarkan pertimbangan dari berbagai sisi yang ada dalam kehidupan ini. Secara agama, Umat Islam terlihat solid, mulai dari kalangan radikal hingga moderat, namun secara nasionalis bangsa kita terlihat seperti di buat untuk saling berperang antara rakyat dan pemerintahan. Memang pada dasarnya konsep demokrasi berada kekuasaan berada di tangan rakyat, akan tetapi Rakyat Indonesia tidak hanya memiliki satu agama, kita semua mempunyai keanekaragaman kepercayaan dengan berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berarti bahwa kita menjalankan agama dengan kepercayaan terhadap Ke Esaan Tuhan dalam diri Individu yang mengajarkan kebaikan dan kedamaian hingga toleransi.

Pada sisi penyebutan kesalahan yang di anggap menistakan agama oleh seseorang, banyak orang terpancing untuk membela agamanya. Itu semua memang dibenarkan karena sesuai perkataan "Jikalau kau tak tersinggung agamamu dihina, ganti pakaianmu dengan kain kafan". Saya memang tersinggung karena penyebutan kalimat yang mengandung penistaan tersebut, namun pada konteksnya selama penghinaan tersebut hanya pada kata-kata. Saya hanya bisa mendoakan semoga sang penista itu sadar akan penistaannya tersebut. Meski dinistakan bagaimanapun agama tak akan pernah nista, justru yang menistakanlah semakin menjadi nista. Agama apapun yang di hina tak akan pernah menjadi hina justru yang membuat agama terhina adalah perilaku buruk dari umatnya sendiri yang beringas karena tidak mampu menahan emosinya. Memang pernah terjadi peperangan karena membela agama, tetapi penyebab peperangan tersebut bukanlah sebuah penghinaan yang dilontarkan oleh mulut namun karena perilaku fisik terhadap umat beragama yang berangsur-angsur dan memang saatnya untuk dibasmi karena menyebabkan kesengsaraan umat beragama tersebut secara lahir dan bathin.

Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, pada akhirnya aksi demonstrasi tersebut berakhir. Meski hasil aspirasi yang didapat tidak sesuai dan sepadan dengan yang diharapkan para demonstran, paling tidak sudah menunjukan kepada negara dan dunia bahwa kekuatan rakyat itu benar-benar nyata. Dengan adanya demonstrasi ini setiap orang pasti akan berpikir dengan sebijak-bijaknya berbicara menyangkut masalah agama agar tidak terjadi perpecah belahan kesatuan bangsa dan kebinekaan Bangsa Indonesia. Persepsi setiap orang pasti berbeda, kita harus berbeda pula menyikapi agar kita bisa dan mampu mengsinkronisasikan antara persepsi yang satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu tiada sisi yang dibenarkan dari peristiwa ini karena setiap sisi ada memiliki kebenaran dan ada pula yang memiliki kesalahan. Benar atau salah adalah sebuah kesatuan dimana harus di sikapi dengan kebijaksanaan masing-masing pribadi tanpa menonjolkan sisi pribadi sendiri. Memberikan umpan balik positif terhadap sisi yang berlawanan tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

Tuesday, April 12, 2016

Solidaritas

Dalam sebuah kelompok solidaritas merupakan nilai yang paling diperlukan. Solidaritas atau kekompakan memang mampu membuat kelompok menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan sinergi satu sama lain, sesuai hak dan kewajiban masing-masing, dalam solidaritas diperlukan pula prinsip saling memahami setiap individu karena tiada sesuatu apapun yang ada di dunia ini sempurna. Segala sesuatu bersifat relatif, oleh karena itu sebuah prinsip perbaikan kecil yang berangsur-angsur agar menghasilkan perubahan besar dalam jangka panjang.
Setiap manusia adalah mahluk individu yang mempunyai ego dan privasi namun manusia juga mahluk sosial yang tak bisa hidup tanpa berkomunikasi dengan orang lain, oleh karena itu guna mencapai sebuah solidaritas untuk tujuan sebuah kelompok dengan pemikiran yang sama hendaknya setiap orang pada saat berada dalam kelompok itu sendiri mengesampingkan kepentingannya, memahami setiap pribadi yang ada dalam kelompok dan bahu membahu demi tujuan yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, apapun permasalahan pribadi antar individu terhadap individu lainnya selama adanya komitmen untuk menjaga solidaritas kelompoknya. Permasalahan itu tak akan berpengaruh sedikitpun terhadap kinerja kelompok. Selama komitmen untuk saling solid satu sama lain sebuah kelompok tak akan pernah tergoyahkan meski oleh waktu sekalipun.

SALAM SOLIDARITAS

Saturday, November 7, 2015

Lepaskan Masa Pembelajaran, Saatnya Masa Pembentukan (Graduation)

Masa pembelajaran merupakan masa kita mengenal awal mula sesuatu dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak kenal diri menjadi kenal diri. Tiada masa yang tiada akhir begitu pula masa pembelajaran dari Sang Guru. Saat Sang Guru melepas masa pembelajarannya kepada Sang Murid itu artinya bahwa Sang Murid benar-benar lulus dan bukan artinya para murid berhenti belajar, melainkan bahwa sudah saatnya para murid belajar langsung kepada pengalamannya masing-masing tentang jati diri itu sendiri guna membangkitkan Sang Maha Guru yang ada pada dalam diri setiap insan.
Perjalanan hidup setiap orang berbeda itu artinya Sang Guru melepas masa pembelajarannya guna menciptakan lulusan kompeten dan berdiri di atas kaki sendiri karena selama masa pembelajaran Sang Guru telah mengajari bagaimana berjalan dengan kaki sendiri, oleh karena itu waktunya tiba bagi para murid menapaki jalan masing-masing berdasarkan konsep yang telah diberikan hingga menemukan jalan baru kehidupan yang tak ditemukan oleh siapa pun selain diri masing-masing mengetahuinya.

Saturday, September 19, 2015

Ketenangan Membawa Berkah

Sesuai dengan perkataan Imam Al Ghazali bahwa: "Setiap orang akan binasa kecuali  yang beriman, setiap  yang beriman akan binasa kecuali  yang berilmu, setiap yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal, yang beramal akan binasa kecuali yang ikhlas." Iman, ilmu, amal dan ikhlas merupakan satu kesatuan unsur kepemimpinan Rasulullah yaitu Siddiq yang artinya benar, Fathanah yang artinya cerdas, Tabligh yang artinya menyampaikan dan amanah yang artinya dapat dipercaya. Unsur kepemimpinan ini merupakan unsur hakiki kehidupan. Pada pembahasan ini saya akan menceritakan pengalaman tentang arti ketenangan dari sifat ikhlas yang berkaitan dengan unsur amanah dimana ikhlas adalah rupa dari ketenangan.

Harta merupakan titipan semata guna bertahan hidup untuk tujuan hidup manusia yaitu mengabdi kepada Sang Tuhan Semesta Alam. Manusia menjalankannya sebagai amanah dari Sang Khalik untuk mendapatkannya dengan jalan yang benar. Ada cerita seorang buruh yang mencari harta tersebut dengan jalan yang benar, pernah terjadi sebuah peristiwa di saat sedang bekerja sang buruh yang sedang menarik gerobak membawa barang untuk dikirim ke pelanggan yang ada di pasar. Pada saat itu jalan pasar dalam keadaan macet, kemacetan terjadi akibat dari aktivitas jalanan pasar yang padat seperti pedagang, becak dan orang yang arahnya tidak menentu. Di kala gerobak sang buruh berpapasan dengan sebuah sepeda motor milik seorang pedagang yang saat itu sedang berjalan menuju arah berlawanan dari gerobak sang buruh, tanpa sengaja pelindung knalpot sepeda motor sang pedagang menyenggol baut besar penyangga ban gerobak yang dibawa sang buruh hingga akhirnya membuat pelindung knalpot motor sang pedagang pecah.

Sang pedagang marah dan menuntut ganti rugi dengan kasar kepada sang buruh. Padahal semua orang saksi tahu bahwa yang bersalah sebenarnya adalah sang pedagang karena dia telah sembarangan menggunakan hartanya yaitu sepeda motor tanpa bijak dengan terus maju jalan tanpa memperkirakan bahwa jalan tidak muat untuk dilewati. Dengan hati tenang sang buruh bersedia mengganti rugi kerusakan tersebut walaupun dikasari sang pedagang dengan nominal yang disepakati. Bagi sang buruh uang hanyalah titipan semata, walau hilang masih bisa dicari. Sang buruh tetap lega karena baginya waktu bekerja lebih berharga daripada uang, dia percaya baginya dunia ini hanyalah perjalanan semata yang semu.

Pada saat yang tak disangka, setelah sang pedagang bubar jauh usai mendapat uang ganti rugi. Seseorang bertanya kepada rekan kerja sang buruh tentang kronologi kejadian tersebut. Usai diceritakan kejadian itu orang tersebut memberi ganti rugi sesuai nominal yang diberi sang buruh kepada sang pedagang, sampai sang rekan kerja merasa terharu atas pemberian tersebut yang artinya sang buruh tak mendapat kerugian apapun, pada akhirnya mereka pun bersyukur.

Dari cerita tersebut dapat kita ambil hikmah bahwa segala sesuatu yang direlakan dengan ikhlas pasti ada gantinya. Apalagi sesuatu yang direlakan tersebut didapatkan dengan jalan yang benar. Kunci dari keikhlasan seseorang terletak dari ketenangannya untuk melepaskan sesuatu yang berharga karena memang sudah waktunya untuk dilepaskan. Percayalah semua pasti ada gantinya. Cerita itulah bukti nyata bahwa Tuhan selalu ada beserta kita.